Uma
Lengge dan Jompa: Sejarah, Filosofi dan Arsitektur Masyarakat Bima
Sejarah dan Filosofi
Uma Lengge salah satu rumah adat
tradisional peninggalan asli nenek moyang suku Bima (Dou Mbojo) yang dulunya
berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi. Lokasi kedua peninggalan adat
tersebut terletak di Desa Maria, Kecamatan Maria, dan Desa Sambori Kecamatan
Lambitu Kabupaten Bima, Pulau Sumbawa.
Pada masa lalu, padi disimpan di Uma
Lengge atau Uma Jompa untuk kebutuhan satu tahun. Penempatannya yang terpisah
dengan rumah tinggal penduduk konon dimaksudkan untuk mencegah efek domino yang
merugikan apabila terjadi bencana kebakaran. Dengan demikian, apabila rumah
tempat tinggal penduduk terbakar, maka padi yang disimpan di dalam Uma Lengge
atau Uma Jompa tidak akan ikut terbakar, begitu pula sebaliknya. Oleh karena
itulah, kompleks Uma Lengge di Desa Maria dibangun agak jauh dari pemukiman
penduduk.
Ciri, struktur ruang dan Pola
Permukiman Lengge merupakan salah satu rumah adat tradisional Bima yang dibuat
oleh nenek moyang suku Bima (Mbojo) sejak zaman purba. Sejak dulu, bangunan ini
tersebar di wilayah Sambori, Wawo dan Donggo. Khusus di Donggo terutama di
Padende dan Mbawa terdapat rumah yang disebut Uma Leme. Dinamakan demikian
karena rumah tersebut sangat runcing dan lebih runcing dari Lengge. Atapnya
mencapai hingga ke dinding rumah. Namun saat ini jumlah Lengge atau Uma Lengge
semakin sedikit. Di kecamatan Lambitu, Lengge dapat ditemukan di desa Sambori yang
berjarak sekitar 40 km sebelah tenggara kota Bima. Meskipun ada juga di desa
lain seperti di Kuta, Teta, Tarlawi dan Kaboro dalam wilayah kecamatan Lambitu.
Uma Lengge terdiri dari tiga lantai.
Lantai pertama digunakan untuk menerima tamu dan kegiatan upacara adat. Lantai
kedua berfungsi sebagai tempat tidur sekaligus dapur. Sedangkan lantai ketiga
digunakan untuk menyimpan bahan makanan seperti padi, palawija dan
umbi-umbian.
Pintu masuknya terdiri dari tiga
daun pintu yang berfungsi sebagai bahasa komunikasi dan sandi untuk para
tetangga dan tamu. Menurut warga Sambori, jika daun pintu lantai pertama dan
kedua ditutup, hal itu menunjukan bahwa yang punya rumah sedang berpergian tapi
tidak jauh dari rumah. Tapi jika ketiga pintu ditutup, berarti pemilik rumah
sedang berpergian jauh dalam tempo yang relatif lama.
Hal ini tentunya merupakan sebuah
kearifan yang ditunjukkan oleh leluhur orang-orang Bima. Ini tentunya
memberikan sebuah pelajaran bahwa meninggalkan rumah meski meninggalkan pesan
meskipun dengan kebiasaan dan bahasa yang diberikan lewat tertutupnya daun
pintu itu. Disamping itu, tamu atau tetangga tidak perlu menunggu lama karena
sudah ada isyarat dari daun pintu tadi.
Seiring perubahan zaman, Uma Lengge
sudah banyak yang dipermark disesuaikan dengan kebutuhan masa kini. Atapnya
sudah banyak yang terbuat dari seng. Fungsinya juga sudah banyak yang menjadi
lumbung. Lengge-lengge yang ada di wawo saat ini sudah banyak yang difungsikan
sebagai lumbung padi. Keberadaan lengge di kecamatan Wawo menjadi salah satu
obyek wisata budaya di kabupaten Bima. Banyak wisatawan manca negara yang
berkunjung ke Lengge Wawo untuk melihat dan meneliti tentang sejarah Uma
Lengge.
Lengge Sambori juga merupakan salah
satu aset dan obyek wisata desa adat yang telah dicanangkan oleh pemerintah
Kabupaten Bima. Sambori terletak di lembah gunung Lambitu yang sejuk dan dingin
tanpa polusi udara. Menurut penelian sejarah orang orang Sambori atau yang
dikenal dengan nama Dou Donggo Ele dan orang-orang Donggo Ipa atau di kecamatan
Donggo sekarang merupakan suku asli Bima.
Denah pemukiman uma lengge terletak
berkumpul pada suatu tempat dengan rumah berjejeran tanpa adanya pagar halaman
karena letak uma lengge berdekatan dan berkelompok dengan uma lengge lainnya.
Arsitektur Bangunan
Secara umum, struktur Uma Lengge
berbentuk kerucut setinggi 5-7 cm, bertiang empat dari bahan kayu, beratap
alang-alang yang sekaligus menutupi tiga perempat bagian rumah sebagai dinding
dan memiliki pintu masuk di bagian bawah. Untuk bagian atap, terdiri atas atap
uma atau butu uma yang terbuat dari daun alang alang, langit-langit atau taja
uma yang terbuat dari kayu lontar, serta lantai tempat tinggal terbuat dari
kayu pohon pinang atau kelapa. Pada bagian tiang uma juga digunakan kayu sebagai
penyangga, yang fungsinya sebagai penguat setiap tiang-tiang Uma Lengge. Uma
Lengge terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama digunakan untuk menerima tamu
dan kegiatan upacara adat. Lantai kedua berfungsi sebagai tempat tidur
sekaligus dapur. Sementara itu, lantai ketiga digunakan untuk menyimpan bahan
makanan, seperti padi.
Bentuk Lengge mirip bangunan rumah
panggung yang dibangun menggunakan bahan kayu dengan atap dari ilalang.
Ukurannya sekitar 4 kali 4 meter, dengan tinggi hingga puncaknya mencapai 7
meter. Lengge ditopang empat kaki kayu, setinggi 1 meter. Di atas kaki kayu
itu, ada semacam bale-bale tanpa dinding dengan 4 penyangga kayu setinggi 1,5
meter. Di atas bale-bale, ada ruangan berdinding kayu, tempat penyimpanan
persediaan pangan. Atapnya dari ilalang yang berbentuk mengerucut ke atas.



0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda